Setengah abad silam, di Lanus, Buenos Aires, sebuah keluarga miskin kedatangan anggota baru. Seorang bayi laki-laki yang akan mengubah hidup mereka. Pada 30 Oktober 1960, entah apa yang ada di benak Dalma dan Diego. Di tengah sulitnya hidup, mereka harus menyuapi satu mulut lagi.
Mereka tentu tak tahu jika si bayi bakal menjadi salah satu pesepakbola terbaik di kolong jagat, salah satu sosok paling terkenal seantero planet. Setengah abad lalu, lahir seorang Diego Armando Maradona.
Kisah hidup Maradona membuktikan jika tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Maradona kecil hidup dalam kemiskinan. Sang ibu kerap terpaksa berbohong, mengatakan sudah kenyang agar memastikan semua anggota keluarga bisa makan.
Sifat ini menurun kepada Maradona. Saat pertama kali mendapat bayaran sebagai pemain, Maradona mengajak saudaranya ke toko mainan dan membelikan mereka hadiah. Dia membeli sepeda, sepatu olahraga, benda-benda yang tak pernah dimiliki.
Publik Argentina masih ingat bagaimana Maradona muda menangis karena tak masuk timnas Argentina yang kemudian menjuarai Piala Dunia 1978 di kandang sendiri. Namun, kekecewaan itu dibayarnya dengan penampilan cemerlang di Piala Dunia U-20 di Jepang, setahun kemudian. “Saya tak pernah lebih bahagia ketimbang berada di tim ini,” ujar Maradona dalam otobiografinya.
Di Jepang semuanya berawal. Dunia mulai mengenal sosok pemain mungil yang luar biasa. Kariernya pun melesat cepat. Maradona pun berkelana ke Barcelona, Napoli, dan Sevilla. Bersama Argentina, empat kali Maradona tampil di Piala Dunia sebagai pemain dan sekali sebagai pelatih.
Dalam sejarah Piala Dunia, Maradona adalah warna. Dimulai dengan kartu merah yang diterimanya di Piala Dunia 1982, gol fenomenal dan aksi “tangan Tuhan”nya saat melawan Inggris di Meksiko 1986, tangisannya usai dikalahkan Jerman di Italia 1990, hingga kasus doping di AS 1994.
Dalam perjalanan hidupnya, Maradona memang acap dililit kontroversi. Terlibat narkoba, kecanduan alkohol yang nyaris merenggut nyawanya, perselingkuhan, dan lainnya. Namun, Maradona tetap diakui sebagai one of the greatest. Termasuk saya pribadi. Tanpa disadari, Maradona-lah yang membuat saya gila bola.
Feliz Cumpleanos El Diez, El Pelusa, El Pibe de Oro!

